Artikel Umum

SITUASI BELAJAR MENYENANGKAN BAGI SEORANG SISWA DI SEKOLAH

Dipublikasikan pada : 6 Agustus 2020.

Oleh Taufik Hidayat

Mengawali pembahasan dalam buku ini, kami berusaha menjelaskan tentang kesejahteraan subjektif siswa dalam situasi belajar yang dinilai menyenangkan di sekolahnya. Kami berusaha mengungkap komponen pembentuk well being siswa di sekolah serta faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terbentuknya well being dalam internal seorang siswa. Selain itu, kami pun berusaha menggambarkan bagaimana situasi belajar menyenangkan didefiniskan oleh seorang siswa dan apa saja indikasi situasi belajar yang menyenangkan tersebut. Selanjutnya, kami mencoba mengungkap faktor-faktor pendukung situasi belajar menyenangkan bagi siswa, apa saja penghambat situasi belajar menyenangkan bagi siswa serta apa dampak situasi belajar menyenangkan di sekolah bagi siswa tersebut.

Situasi yang terjadi pada suatu lingkungan, turut mempengaruhi sikap dan perilaku manusia di dalamnya. Hal tersebut juga berlaku dalam konteks pembelajaran di kelas atau bahkan di sekolah. Slavin (2000) menjelaskan dalam bukunya Educational Psychology: Theory and Practice bahwa mekanisme stimulus respon menggerakan roda interaksi antar orang di dalamnya. Bahkan, di situasi tertentu bisa berimplikasi pada memori seseorang. Situasi belajar menjadi salah satu stimulus untuk afeksi dan kognisi seseorang. Poon (2001) menyebutkan bahwa seorang yang sedang senang cenderung lebih gampang mengingat materi yang bersifat menyenangkan daripada materi yang sedih, sebaliknya seorang yang sedang sedih cenderung lebih mampu mengingat materi yang sedih daripada materi yang menyenangkan.

Selain itu, sebuah situasi juga menjadi pengalaman bagi seseorang. Semakin tinggi keterlibatan emosi pada pengalaman tersebut, maka seseorang akan mampu mengingatnya dalam jangka waktu lama (Munawir, 2002). Bahkan dalam konteks pembelajaran di kelas, situasi yang sangat menunjang kesiapan emosi dan fokus perhatian di kelas, akan membuat pembelajaran tersebut lebih efektif. Dengan kata lain, pengalaman belajar menyenangkan akan berdampak baik bagi perkembangan belajar peserta didik.

Situasi belajar menjadi salah satu hal yang mesti dijaga, diperhatikan dan dikelola dengan baik oleh setiap guru saat di kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif (Mulyasa, 2005). Selain keterampilan guru dalam mengelola kelas, situasi belajar juga turut dipengaruhi oleh eksternal masing-masing siswanya. Pengalaman belajar di sekolah, antar individu akan berbeda-beda. Hal itu salah satunya disebabkan oleh perbedaan bagaimana masing-masing individu menafsirkan apa yang dialaminya.

Persepsi dan pemaknaan tiap orang turut mempengaruhi penafsiran tersebut. Situasi yang terjadi saat itu menjadi pengalaman berbeda-beda bagi tiap siswanya. Boleh jadi peristiwanya sama, namun rasanya berbeda antar satu siswa dengan siswa lainnya.

Muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya mengapa tiap siswa bisa menafsirkan dan merasakan hal yang berbeda meski peristiwa atau situasinya sama? Dalam perspektif psikologis, ada istilah yang disebut kesejahteraan subjektif atau biasa dikenal subjective well being.  Pramesdita (2008) menjelaskan kesejahteraan subjektif ialah persepsi seseorang terhadap pengalaman hidupnya, yang terdiri dari evaluasi kognitif dan afeksi terhadap hidup dan merepresentasikan dalam kesejahteraan psikologis.

Sejalan dengan itu, Nugraha (2007) berpendapat bahwa kesejahteraan subjektif merupakan penjumlahan dari pengalaman-pengalaman positif yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Semakin banyaknya peristiwa menyenangkan yang terjadi, maka semakin bahagia dan puas individu tersebut. Dengan demikian, untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif, diperlukan cara mengubah lingkungan dan situasi yang akan mempengaruhi pengalaman individu tersebut.

Jika melihat konteks afeksi dalam kesejahteraan subjektif ini, tiap siswa akan memberikan respon atas situasi yang terjadi di tempat ia belajar. Reaksi individu siswa tersebut terhadap kejadian-kejadian dalam hidupnya terdiri dari emosi yang menyenangkan dan emosi yang tidak menyenangkan (Adrian, 2012).

Situasi belajar pun tentunya tak akan selamanya menyenangkan dan sesuai dengan keinginan. Masalah dan dinamika sosial akan terus ada di kelas dimana siswa tersebut bersekolah. Kejadian yang tak diharapkan, gangguan belajar, tekanan masalah pelajaran, problematika dengan teman sekelas atau bahkan kelas lain, menjadi suatu keniscayaan yang pasti akan terjadi. Mulyasa (2005) menerangkan bahwa tak hanya faktor eksternal saja yang mempengaruhi, termasuk masalah internal dirinya juga turut mempengaruhi kondisi pembelajaran saat di sekolah. Masalah internal bisa berbentuk mood belajar, motivasi belajar, kesedihan dan kegembiraan dirinya kala itu. Meskipun demikian, ada siswa yang menyimpulkan semua kejadian termasuk kekonyolan, kesedihan, penderitaan dan sakit hati ketika belajar di sekolah, sebagai sesuatu yang menyenangkan dan berkesan dalam episode kehidupannya. Pertanyaan berikutnya ialah, situasi belajar seperti apa yang akan membentuk emosi yang menyenangkan pada diri seseorang?

Asumsi jawaban atas pertanyaan tersebut tentu merujuk pada situasi belajar yang menyenangkan. Namun pada realitasnya, tiap siswa memiliki terminologi berbeda mengenai frasa ‘menyenangkan’ tersebut, sehingga pembacaan terhadap masalah ini masih dipandang sebagai hal yang menarik dan relevan untuk dikaji.  Penulis merasa sangat perlu mengkaji subjektivitas kesejahteraan psikologis dalam konteks situasi belajar menyenangkan di sekolah. Selanjutnya terbersit pula, mengenai komponen apa saja yang membentuk kesejahteraan subjektif tersebut? Definisi situasi belajar menyenangkan itu bagaimana? Lantas, indikasi situasi belajar yang menyenangkan seperti apa? Faktor-faktor pendukung situasi belajar menyenangkan bagi siswa apa saja? Bagaimana dampak situasi belajar menyenangkan di sekolah bagi siswa bersangkutan? Deretan pertanyaan-pertanyaan itu akan diuraikan di paragraf selanjutnya.

Perasaan menyenangkan di sekolah terjadi dengan diawali kondisi siswa yang memiliki penilaian positif terhadap sekolahnya. Penilaian siswa terhadap kehidupannya di sekolah dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi dan dinamika yang terjadi di dalamnya. Penilaian dan pengalaman positif yang subjektif tersebut dapat dikatakan sebagai kesejahteraan siswa atau subjective well being siswa di sekolah. Haybron (2008) menjelaskan bahwa lingkungan sekolah yang kondusif memberikan dampak positif pada siswa sehingga ia akan merasakan kesejahteraan di sekolah. Kesejahteraan di sekolah dapat memengaruhi siswa untuk lebih mudah mempelajari serta memahami informasi secara efektif dan menunjukkan perilaku sosial yang sehat dan memuaskan. Selain itu, siswa yang merasa terhubung dengan sekolahnya menunjukkan performa akademik yang lebih baik (2015). Oleh karena itu siswa perlu merasa sejahtera ketika berada di sekolah (Hidayah, 2018).

Kesejahteraan sering disebut dengan istilah well-being, yang secara umum diartikan sebagai kebahagiaan dan keadaan yang nyaman. Penjelasan mengenai well-being dapat dijelaskan sebagai bentuk kebahagiaan subjektif, berfokus pada pengalaman yang lebih banyak memberi pengaruh positif; serta tingkat kepuasaan yang tinggi terhadap kehidupan seseorang. Lebih jauh Diener (2000) menjelaskan subjective well-being adalah sejauhmana seorang individu melakukan evaluasi terhadap kehidupannya, refleksi kognitif dari domain hidupnya, termasuk emosi dan mood-nya pada kehidupan tersebut. Subjective well-being yang dimaksud pada bahasan karya tulis ini berfokus pada pendekatan domain khusus dalam kehidupan, yaitu domain sekolah yang disebut sebagai kesejahteraan subjektif di sekolah.

Kesejahteraan subjektif di sekolah yang dikonseptualisasikan oleh Tian (2015) merupakan eksplorasi dari konsep subjective well being yang diungkapkan oleh Diener (2000) yang difokuskan pada domain sekolah. Menurut Tian (2015), subjective well being seseorang atau anak tentu akan berbeda pada tempat atau domain yang berbeda, salah satunya kesejahteraan subjektif di sekolah. Kesejahteraan subjektif di sekolah merupakan evaluasi atau penilaian siswa secara subjektif dan emosional mengenai pengalaman kehidupan mereka di sekolah. Kesejahteraan subjektif di sekolah merupakan indikator yang mencerminkan tidak hanya kualitas hidup siswa remaja tetapi juga kualitas pendidikan di sekolah (Tian, 2015).

Konseptualisasi model kesejahteraan subjektif di sekolah meliputi komponen kognitif, yaitu school satisfaction dan komponen afektif, yaitu affect in school (Khatimah, 2015). School satisfaction atau kepuasan terhadap sekolah merupakan komponen pertama dari konstruk ini. Komponen ini mengukur evaluasi kognitif dengan menggunakan standar internal siswa terhadap lingkungan sekolah sehari-hari. Sementara itu, komponen kedua yaitu afektif mengukur seberapa sering siswa mengalami dua pengalaman emosi yaitu emosi positif dan negatif di sekolah (Tian, 2015).  Adapun Konu (2002) menyatakan bahwa lingkungan sekolah, yang dalam hal ini mencakup kualitas interaksi dengan teman sebaya dan kualitas interaksi antara siswa dengan guru akan membentuk kesejahteraan siswa di sekolah.

Dalam kaitannya dengan tata kelola atau manajemen sekolah, yang merupakan inti dari dimensi organisasi, Diener (2000) menyatakan bahwa struktur kelas, aturan di sekolah, dan juga perilaku guru akan berpengaruh pada kesejahteraan siswa. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hidayah (2018)  juga melaporkan bahwa sistem nilai dan sikap guru terhadap siswa berpengaruh terhadap penerimaan hidup dan rasa optimis siswa, kesejahteraan fisiologis siswa, serta kesejahteraan psikologis siswa.

Jika melihat hubungan antara persepsi terhadap iklim sekolah dengan aspek-aspek kesejahteraan subjektif di sekolah secara spesifik, maka akan didapatkan nilai hubungan yang lebih kuat dengan aspek kognitif. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena keduanya sama-sama melibatkan unsur kognitif siswa. Persepsi siswa ter-hadap iklim sekolah didasari atas kesesuaian antara kebutuhan siswa dengan apa yang telah diberikan oleh sekolah (Khatimah, 2015).

Berdasarkan hal tersebut, seorang siswa akan melakukan penilaian terhadap berbagai karakteristik yang ada di dalam lingkungan sekolahnya apakah sesuai dengan harapan dan ke-butuhan siswa atau tidak. Sementara itu, aspek kognitif kesejahteraan subjektif di sekolah juga mengacu pada apakah siswa mengalami kepuasan ketika sedang berada di sekolah atau tidak. Mulyasa (2005) menjelaskan bahwa tingkat kepuasan hidup melibatkan penilaian kognitif yang mengacu pada standar dari masing-masing individu. Berdasarkan hal ini, maka siswa akan melakukan evaluasi subjektif atas berbagai pengalamannya selama berada di sekolah apakah membuatnya merasa puas ataukah tidak. Dengan demikian, baik penilaian terhadap iklim sekolah maupun evaluasi subjektif pada pengalaman-pengalaman siswa ketika berada di sekolah, keduanya melibatkan unsur kognitif siswa

Konsep school well being memiliki harapan bahwa kesejahteraan sekolah siswa lebih penting, yaitu penilaian siswa dalam menilai kelayakan sekolah mereka sebagai lingkungan belajar yang mampu memberikan dukungan, rasa aman, dan nyaman. Syah (2007) mengemukakan bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami di sekolah. Oleh karena itu sekolah perlu menciptakan kondisi yang nyaman, menyenangkan dan tidak membosankan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap penilaian siswa tentang sekolahnya.

Menurut Khatimah (2015) school well-being ditentukan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal individu. Dijelaskan Khatimah (2015) bahwa faktor internal adalah modal dasar personal siswa yaitu siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, disiplin yang tinggi, kerjasama yang baik, memiliki strategi belajar yang baik serta inisiatif belajar yang baik; sedangkan faktor eksternal meliputi infrastruktur yang baik, managemen sekolah, interaksi yang baik antara guru maupun teman serta dukungan penuh dari orangtua.

Dijelaskan Santrock (2011) bahwa seorang siswa apabila (a) memahami dan menerima diri mereka sendiri, (b) berusaha keras untuk mencapai tujuan pribadi dan mengaktualisasikan potensi mereka, dan yang (c) puas dengan diri mereka sendiri, orang lain dan kehidupan, secara umum, biasanya mengalami rasa kesejahteraan (well-being).

Senada dengan itu, Haybron (2008) berpendapat bahwa asal-usul kesejahteraan psikologis berasal dari lingkungan. Untuk siswa, sekolah merupakan setting yang ideal untuk mengajarkan well being karena remaja menghabiskan banyak waktu mereka di sekolah. Para ahli menekankan tiga alasan mengapa mengajarkan well-being itu menjadi penting untuk dilakukan, pertama adalah peningkatan dari kekuatan akan emosi positif diantarra para remaja, keterlibatan dan pemaknaan kehidupan akan menjadi penangkal dari depresi, meningkatkan kepuasaan hidup, memfasiltasi pembelajaran dan berpikir positif.

Slavin (2000) memberikan penekanan, bahwa pendidikan mempunyai tujuan yang signifikan untuk membantu para remaja dalam mengembangkan ketrampilan dan kemampuan untuk hidup dengan lebih baik dan menambah kohesi social. Pramesdita (2008) menyatakan bahwa fokus harus ditujukan pada emotional well being (kesejahteraan emosional) para siswa dan kapabilitas sosial yang terkoneksi dengan kemampuan kognitif dan akademis. Penemuan-penemuan ini mengindikasikan bahwa well being sebagai sebuah indikator untuk mempromosikan kesehatan mental dari para remaja sudah seharusnya diajarkan di sekolah.

Walaupun banyak para ahli yang memperdebatkan efektifitas dari program peningkatan well being ini serta anggapan bahwa program-program ini hanya menghabiskan biaya dan waktu, namun beberapa bukti menunjukkan bahwa program peningkatan well-being ini mampu meningkatkan motivasi siswa, energi, dan sumber-sumber untuk mendukung mata pelajaran yang pada akhirnya membantu siswa dalam meningkatkan prestasi akademik mereka (Khatimah, 2015).

Banyak faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif siswa dalam belajar di sekolahnya. Sebagian besar program peningkatan kesejahteraan psikologis siswa berfokus pada penguatan karakter hubungan sosial di sekolah dan metode pengajaran yang mempu mendukung siswa untuk lebih terlibat dan mempunyai makna dalam pelajaran yang mereka dapatkan (Hidayah, 2018). Hal ini dikarenakan beberapa penelitian menemukan bahwa learning environment (lingkungan pembelajaran) berkorelasi terhadap subjective well being in school dengan dimensi peer relation (hubungan dengan teman sebaya) dan academic teaching (pembelajaran akademis) sebagai prediktor tertinggi pada subjective well-being in school (Tian, 2015). Semakin positif siswa mempersepsi lingkungan pembelajaran mereka, maka semakin tinggi tingkat well-being mereka di sekolah. Dari studi Tian (2015) dipahami bahwa dimensi peer relation, semakin siswa merasa puas dengan hubungan pertemanan mereka di sekolah, maka semakin tinggi subjective well being mereka di sekolah. Siswa yang merasa puas dengan hubungan pertemanan mereka ditunjukkan dengan hubungan sosial yang baik, merasa dihargai, diajak berteman, dan saling memberikan dukungan.

Adapun berkaitan dengan hal diatas, sebuah kelas dimana para siswanya banyak yang mempunyai well-being yang tinggi, maka iklim kelas positif akan semakin muncul, sementara ruang kelas dimana siswanya mempunyai well-being yang rendah maka iklim kelas akan menjadi negatif (Khatimah, 2015). Pentingnya akan peran teman sebaya terhadap peningkatan subjective well being pada remaja juga dibuktikkan oleh beberapa penelitian yang melaporkan bahwa dukungan teman sekelas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap subjective well being siswa. Siswa yang mempersepsi temannya memberikan dukungan yang tinggi akan mempunyai kepuasan terhadap sekolah yang lebih tinggi pula (Mulyasa, 2005).

Dari pembahasan-pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwasanya situasi belajar menyenangkan di sekolah didapatkan oleh seseorang manakala ia melakukan persepsi positif terhadap iklim sekolah dengan kesejahteraan subjektif dalam dirinya. Selain itu, persepsi siswa terhadap iklim sekolah juga memiliki hubungan yang lebih kuat dengan aspek kognitif kesejahteraan siswa dibandingkan dengan aspek afektifnya. Hal tersebut kemungkinan terjadi kerena baik persepsi terhadap iklim sekolah maupun aspek kognitif kesejahteraan subjektif di sekolah sama-sama melibatkan penilaian evaluatif dari siswa. Semakin tinggi siswa mempersepsikan ia menerima dukungan sosial yang disediakan oleh lingkungan sekolahnya, maka semakin tinggi pula kepuasan siswa di sekolah, semakin tinggi perasaan positifnya, dan semakin rendah perasaan negatifnya.

Selanjutnya, yang turut membentuk perasaan situasi menyenangkan di sekolah ialah kecerdasan emosi siswa tersebut. Kecerdasan emosional berperan dalam menentukan school well being secara signifikan. Semakin tinggi kecerdasan emosi maka terdapat kecenderungan peningkatan school well being siswa. Selain itu, keterlibatan dan pencarian akan makna dari apa yang mereka pelajari di sekolah membuat mereka mempunyai tingkat kepuasaan yang lebih tinggi dan perasaan yang lebih baik di sekolahnya.

Daftar Pustaka

Adrian.(2012). Music and Mood: Where Theory and Reality Meet. Journal of Experimental Psychology: General, Vol. 49, No. 8 Tahun 2008.

Diener.(2000). Handbook of  Emotions. New York: The Guildford Press.

Haybron.(2008).  The  Science  of  Subjective Well-Being.    New York:The Guildford Press.

Hidayah, Nur.(2018). Parents ’ perspective about students ’ school well-being. In Proceeding of International Conference On Child-Friendly Education (pp. 99–103). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Khatimah, H. (2015). Gambaran school well-being pada peserta didik program kelas akselerasi di SMA Negeri 8 Yogyakarta. PSIKOPEDAGOGIA Jurnal Bimbingan dan Konseling, 4(1), 20.

Konu, A., & Rimpelä, M. (2002). Well-being in schools: A conceptual model. Health Promotion International, 17(1), 79–87.

Mulyasa. D.(2005). Menjadi guru Pofesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munawir. (2002). Hubungan antara Interaksi Sosial dengan Kecerdasan Emosi. Jurnal psikologi, 2 (1).

Nugraha, G. (2007). Mood dependent memory for internal versus external events. Journal of experimental psychology: Learning, Memory, and Cognition, 15, 3, 443‐445 .