{"id":7515,"date":"2018-03-05T23:27:38","date_gmt":"2018-03-05T16:27:38","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/"},"modified":"2018-03-05T23:27:38","modified_gmt":"2018-03-05T16:27:38","slug":"bullying-dalam-dunia-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/","title":{"rendered":"&#8220;Bullying dalam dunia pendidikan&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>BULLYING DALAM DUNIA PENDIDIKAN<\/strong><\/p>\n<p>Oleh : Cynantia Rachmijati<\/p>\n<p>Program Studi Bahasa Inggris \u2013 Dosen Bahasa Inggris \u2013 IKIP\u00a0 SILIWANGI- Cimahi<\/p>\n<p>\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014<\/p>\n<p><strong>A.PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Seorang peserta didik menghabiskan waktu di sekolah dari mulai pagi hingga petang. Selain menambah keahlian dan kreatifitasnya dalam pembelajaran dan pendidikan, ia juga belajar untuk bergaul dengan orang lain dalam lingkungan institusi pendidikan tersebut.<\/p>\n<p>Mungkin ia belajar untuk mengenal si cengeng, si pemarah, si komedian, si cantik, si pemimpin dan lain sebagainya. Namun ia juga mulai mengenal bentuk karakter lain yang akhir-akhir ini mulai menjadi sorotan banyak pihak. Yaitu si bully.<\/p>\n<p>Karakter bully ini banyak membuat ketakutan dan cenderung adalah mereka yang dihindari oleh para peserta didik karena perilaku mereka yang tidak menyenangkan. Kekerasan di institusi pendidikan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik antar teman, antar siswa, antar geng di sekolah, kakak kelas, bahkan\u00a0 guru. Lokasi kejadiannya mulai dari ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tetapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma.\u00a0 Pada kasus Don Bosco yang kini banyak dibicarakan, perilaku bullying ini bahkan membuat korbannya harus dirawat di rumah sakit karena mengalami luka-luka yang cukup parah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bullying berasal dari bahasa Inggris yaitu \u201c<em>bully<\/em>\u201d yang artinya menggertak atau menggangu. Mereka bisa mengganggu secara fisik atau emosional. Kasus bullying ini sebaiknya mulai menjadi salah satu pusat perhatian bagi para pendidik dan para guru karena masalah ini terus saja meningkat kadar dan kasusnya dari tahun ke tahun. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai tindak kekerasan atau\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0di sekolah sebagai suatu sikap yang telah keluar dari nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan.<\/p>\n<p>Dan kaitannya dengan pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa, salah satu kutipan mengenai bullying secara verbal bisa digambarkan sebagai berikut,\u201d<em>Sticks and stones may break your bones but mean words can tear holes in your spirit<\/em>\u201d[anonymous]. Yang artinya adalah \u201ctongkat dan batu dapat mematahkan tulangmu, tapi ucapan yang jahat dapat menghancurkan semangatmu\u201d.<\/p>\n<p>Perilaku bullying dapat menghancurkan semangat dan motivasi siswa dan terutama menciptakan situasi yang tidak nyaman untuk belajar.\u00a0 Karena itu perilaku bullying ini perlu mendapatkan pemahaman dan perhatian lebih lanjut. Selanjutnya, makalah ini akan membahas mengenai perilaku, penyebab, dampak dan solusi mengenai bullying dalam dunia pendidikan.<\/p>\n<p><strong>B.ISI<\/strong><\/p>\n<p><strong>1.Pengertian bullying<\/strong><\/p>\n<p><em>Bullying<\/em>\u00a0 berasal\u00a0 dari\u00a0 kata\u00a0\u00a0<em>bully<\/em>,\u00a0 yang\u00a0 dalam\u00a0 bahasa\u00a0 inggris\u00a0 yang berarti penggertak,\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0 mengganggu\u00a0 orang\u00a0 lemah,\u00a0 menggertak,\u00a0 mengganggu (Echols dan Hassan, 1992:87)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut\u00a0 Bambang\u00a0 Sudibyo\u00a0 yang\u00a0 dikutip\u00a0 dalam\u00a0\u00a0<em>Kompas\u00a0<\/em>\u00a0(Senin,\u00a0 01\u00a0 Mei\u00a0 2006) menyebutkan\u00a0 bahwa\u00a0\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>\u00a0bermakna\u00a0 penyiksaan\u00a0 atau\u00a0 pelecehan\u00a0 yang\u00a0 dilakukan<\/p>\n<p>tanpa motif tetapi dengan sengaja atau dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah. Sedangkan menurut SEJIWA (2006),\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>diartikan sebagai tindakan penggunaan\u00a0 kekuasaan\u00a0 atau\u00a0 kekuatan\u00a0 untuk\u00a0 menyakiti\u00a0 seseorang\u00a0 atau\u00a0 sekelompok orang sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Sarwono (Astuti, 2008) menyebutkan bahwa\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>adalah penekanan dari sekelompok\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0 lebih\u00a0 kuat,\u00a0 lebih\u00a0 senior,\u00a0 lebih\u00a0 besar,\u00a0 lebih\u00a0 banyak,\u00a0 terhadap seseorang atau beberapa orang yang lebih lemah, lebih junior, lebih kecil.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kata\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0sulit dicari padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli,\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>dapat diartikan sebagai suatu\u00a0 tindakan\u00a0 untuk\u00a0 menyakti\u00a0 orang\u00a0 lain\u00a0 yang\u00a0 dilakukan\u00a0 oleh\u00a0 pihak\u00a0 yang\u00a0 kuat terhadap pihak yang lemah secara berulang-ulang sehingga korban merasa tertekan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Berikut ini adalah para \u2018peran\u2019 dalam kegiatan bullying :<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat dalam perilaku bullying.<\/li>\n<li>Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung begantung atau mengikuti perintah bully.<\/li>\n<li>Rinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan, mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak \u00a0siswa lain untuk menonton dan sebagainya.<\/li>\n<li>Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantu korban, sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga.<\/li>\n<li>Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Definisi lain menyebutkan bahwa : \u201c<em>Bullying is when a person is picked on over and over again by an individual or group with more power, either in terms of physical strength or social standing<\/em>\u201d [ bullying adalah ketika seseorang disiksa secara berulang-ulang oleh individu atau kelompok dengan kekuatan yang lebih besar, baik secara fisik ataupun sosial].<\/p>\n<p>Maka dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bullying adalah kegiatan penyiksaan pada suatu individu yang dilakukan secara berulang-ulang secara disengaja oleh individu atau kelompok lain yang merasa lebih berkuasa agar korban merasa tertekan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>2.Faktor penyebab bullying<\/strong><\/p>\n<p>Astuti (2008) mencirikan sekolah yang pada umumnya mudah terdapat kasus\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0yaitu :<\/p>\n<ol>\n<li>Sekolah yang di dalamnya terdapat perilaku deskriminatif baik dikalangan guru maupun siswa;<\/li>\n<li>Kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru dan petugas sekolah;<\/li>\n<li>Terdapat kesenjangan yang besar antara siswa yang kaya dan miskin;<\/li>\n<li>Adanya pola kedisiplinan yang sangat kaku\u00a0 ataupun terlalu lemah;<\/li>\n<li>Bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain (Ariesto, 2009):<\/p>\n<ol>\n<li>a) Keluarga.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-cobanya itu, ia akan belajar bahwa \u201cmereka yang memiliki kekuatan\u00a0 diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang\u201d. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>b)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying\u00a0 akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>c) Faktor Kelompok Sebaya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman\u00a0 dengan perilaku tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>d)Kondisi lingkungan sosial<\/p>\n<p>Kondisi\u00a0 lingkungan\u00a0 sosial\u00a0 dapat\u00a0 pula\u00a0 menjadi\u00a0 penyebab\u00a0 timbulnya\u00a0 perilaku\u00a0 bullying.\u00a0 Salah\u00a0 satu\u00a0 faktor\u00a0 lingkungan\u00a0 social\u00a0 yang\u00a0 menyebabkan\u00a0 tindakan\u00a0 bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi\u00a0 memenuhi\u00a0 kebutuhan\u00a0 hidupnya,\u00a0 sehingga\u00a0 tidak\u00a0 heran\u00a0 jika\u00a0 di\u00a0 lingkungan\u00a0 sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>e)Tayangan televisi dan media cetak<\/p>\n<p>Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).<\/p>\n<p>Menurut Seto\u00a0 Mulyadi, seorang psikolog,\u00a0\u00a0 bullying disebabkan karena :<\/p>\n<ol>\n<li>a) Saat ini remaja Indonesia penuh tekanan, terutama yang datang dari sekolah akibat kurikulum yang padat dan teknik pengajaran yang terlalu kaku. Sehingga sulit bagi remaja untuk menyalurkan bakat non-akademisnya. Penyalurannya lewat kejahilan-kejahilan dan menyiksa;<\/li>\n<li>b) Budaya feodalisme yang masih kental di masyarakat juga dapat menjadi salahsatu penyebab bullying , wujudnya adalah timbul budaya senioritas, yang bawah harus nurut sama yang atas.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>3.Karakteristik perilaku bullying<\/strong><\/p>\n<p>Menurut\u00a0 Rigby\u00a0 (Astuti,\u00a0 2008:3)\u00a0 tindakan\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>mempunyai\u00a0 tiga\u00a0 karakteristik terintegrasi, yaitu :<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Adanya perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban<\/li>\n<li>Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan rasa tertekan korban<\/li>\n<li>Perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang dan terus-menerus<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Riset membuktikan bahwa pelaku\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0memiliki citra diri yang relatif positif, sebagian besar populer. Mereka sering berada dalam kelompok dua atau tiga orang yang memberi dukungan dan sering bergabung ketika terjadi\u00a0<em>bullying<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketika seorang peneliti menanyakan 176 anak sekolah menengah atas usia 15 hingga 16 tahun mengenai pengalaman mereka yang berhubungan dengan bullying, baik sebagai penonton atau korban atau pelaku, 69% menyatakan bahwa pelaku adalah penyebab dari bullying. Para murid menyatakan bahwa para pelaku melakukannya karena merasa tidak percaya diri dan melakukan bullying untuk meningkatkan kekuasaan, kepercayaan diri , status dan popularitas.<\/p>\n<p>Ciri-ciri pelaku\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0antara lain<em>\u00a0:<\/em>Sering bersikap agresif terhadap orang dewasa bahkan terhadap ortu dan guru; menguasai teman-temannya, menekan lainnya dan menunjukkan dirinya dengan kekuatan dan ancaman; cepat marah, impulsif, sulit diatur, kasar, dan hanya<\/p>\n<p>menunjukkan simpati yang sangat kecil kepada korban\u00a0<em>bully;\u00a0 p<\/em>andai beralasan untuk mencari jalan keluar dari situasi yang sulit; ketika dipergoki, mereka mengatakan hanya iseng atau bercanda.<\/p>\n<p>Seseorang bisa menjadi pelaku bullying karena beragam sebab: kemampuan adaptasi yang buruk, pemenuhan eksistensi diri yang kurang (biasanya pelaku\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0nilainya kurang baik), adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak terpuaskan di aspek lain dalam kehidupannya, hubungan keluarga yang kurang harmonis, bahkan bisa jadi si pelaku ini juga merupakan korban\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>sebelumnya atau di tempat lain.<\/p>\n<p>Secara umum, tingkah laku\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0ini berawal dari masalah yang dialami oleh pelaku. Kemampuan pemecahan masalah yang kurang bisa membuat anak mencari jalan keluar yang salah, termasuk dalam bentuk\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0ini. Contoh, anak yang sering \u201cditindas\u201d kakaknya di rumah, kemudian mencari pelampiasan dengan \u201cmenindas\u201d anak lain di sekolahnya.<\/p>\n<p>Melalui pelatihan yang diselenggarakan oleh Yayasan Sejiwa (2007), terangkum beberapa pendapat orang tua tentang alasan anak-anak menjadi pelaku bullying, di antaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Karena mereka pernah menjadi korban bullying<\/li>\n<li>Ingin menunjukkan eksistensi diri<\/li>\n<li>Ingin diakui<\/li>\n<li>Pengaruh tayangan TV yang negatif<\/li>\n<li>Senioritas<\/li>\n<li>Menutupi kekurangan diri<\/li>\n<li>Mencari perhatian<\/li>\n<li>Balas dendam<\/li>\n<li>Iseng<\/li>\n<li>Sering mendapat perlakuan kasar dari pihak lain<\/li>\n<li>Ingin terkenal<\/li>\n<li>Ikut-ikutan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Maka bisa disimpulkan, mereka yang menjadi pelaku bullying adalah mereka yang :<\/p>\n<ol>\n<li>Bisa perempuan atau laki-laki<\/li>\n<li>Bersikap agresif atau bahkan tampak mudah bergaul<\/li>\n<li>Manipulatif<\/li>\n<li>Mendominasi dan memiliki perasaan narsis<\/li>\n<li>Memiliki kemampuan bersosialisasi yang cukup buruk<\/li>\n<li>Tidak memiliki empati pada orang lain<\/li>\n<li>Populer dan dikagumi orang lain, sehingga beranggapan akan bisa \u2018lolos\u2019 dari hukuman<\/li>\n<li>Tampak percaya diri namun sebenarnya tidak<\/li>\n<li>Merupakan korban bully orang lain sehingga melakukannya lagi pada yang lain<\/li>\n<li>Memiliki masalah keluarga dan masalah psikologis yang tak terselesaikan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Para pelaku bullying ini sebaiknya ditindaklanjuti karena berdasarkan penelitian maka mereka cenderung akan :<\/p>\n<ol>\n<li>Banyak para pelaku bullying sulit untuk melanjutkan pendidikan sehingga cenderung drop-out<\/li>\n<li>Cenderung berlanjut ke arah kegiatan kriminal<\/li>\n<li>Bergaul dengan para bully yang lain sehingga tingkat kehidupannya tidak membaik<\/li>\n<li>Saat dewasa cenderung menjadi anti sosial dan dominan pada kekerasan<\/li>\n<li>Cenderung menciptakan generasi bully yang selanjutnya<\/li>\n<li>Cenderung terlibat dalam penyalahgunaan obat terlarang dan minuman keras<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>4.Karakteristik korban bullying<\/strong><\/p>\n<p>Biasanya mereka yang menjadi korban bullying memiliki karakteristik dibawah ini :<\/p>\n<ol>\n<li>Mungkin mereka memiliki semacam kekurangan atau perbedaan , baik secara fisik ataupun materi<\/li>\n<li>Mungkin mereka memiliki masalah di rumah yang membuat mereka sedih<\/li>\n<li>Mereka memiliki sesuatu yang membuat para bully cemburu, misalnya bakat<\/li>\n<li>Mereka tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan oleh para bully sehingga mereka dihukum<\/li>\n<li>Mereka tidak bisa membela diri mereka sendiri<\/li>\n<\/ol>\n<p>Tanda-tanda anak korban bullying :<\/p>\n<ol>\n<li>Kesulitan dalam bergaul<\/li>\n<li>Merasa takut datang ke sekolah sehingga sering bolos<\/li>\n<li>Ketinggalan pelajaran<\/li>\n<li>Mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran<\/li>\n<li>Kesehatan fisik dan mental (jangka pendek\/jangka panjang) akan terpengaruh<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>5.Bentuk perilaku bullying<\/strong><\/p>\n<p>Bentuk\u00a0\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>\u00a0menurut\u00a0 Coloroso\u00a0 (2007:47)\u00a0 dibagi\u00a0 menjadi\u00a0 tiga\u00a0 jenis,\u00a0 yakni :<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><em>Bullying<\/em>\u00a0Fisik<\/li>\n<\/ol>\n<p>Penindasan\u00a0 fisik\u00a0 merupakan\u00a0 jenis\u00a0\u00a0<em>bullying\u00a0<\/em>\u00a0yang\u00a0 paling\u00a0 tampak\u00a0 dan\u00a0 paling dapat\u00a0 diidentifikasi\u00a0 diantara\u00a0 bentuk-bentuk\u00a0 penindasan\u00a0 lainnya,\u00a0 namun\u00a0 kejadian penindasan fisik terhitung\u00a0 kurang\u00a0 dari sepertiga insiden penindasan\u00a0 yang\u00a0 dilaporkan oleh siswa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang termasuk jenis penindasan secara fisik adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian\u00a0 serta\u00a0 barang-barang\u00a0 milik\u00a0 anak\u00a0 yang\u00a0 tertindas.\u00a0 Semakin\u00a0 kuat\u00a0 dan\u00a0 semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan\u00a0 untuk\u00a0 mencederai\u00a0 secara\u00a0 serius.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><em>Bullying<\/em>\u00a0Verbal<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kekerasan\u00a0 verbal\u00a0 adalah\u00a0 bentuk\u00a0 penindasan\u00a0 yang\u00a0 paling umum\u00a0 digunakan,\u00a0 baik\u00a0 oleh\u00a0 anak\u00a0 perempuan\u00a0 maupun\u00a0 anak\u00a0 laki-laki.\u00a0 Kekerasan verbal\u00a0 mudah\u00a0 dilakukan\u00a0 dan\u00a0 dapat\u00a0 dibisikkan\u00a0 dihadapan\u00a0 orang\u00a0 dewasa\u00a0 serta\u00a0 teman sebaya,\u00a0 tanpa\u00a0 terdeteksi.\u00a0 Penindasan\u00a0 verbal\u00a0 dapat\u00a0 diteriakkan\u00a0 di\u00a0 taman\u00a0 bermain bercampur\u00a0 dengan\u00a0 hingar-bingar\u00a0 yang\u00a0 terdengar\u00a0 oleh\u00a0 pengawas,\u00a0 diabaikan\u00a0 karena hanya\u00a0 dianggap\u00a0 sebagai\u00a0 dialog\u00a0 yang\u00a0 bodoh\u00a0 dan\u00a0 tidak\u00a0 simpatik\u00a0 di\u00a0 antara\u00a0 teman sebaya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penindasan\u00a0 verbal\u00a0 dapat\u00a0 berupa\u00a0 julukan\u00a0 nama,\u00a0 celaan,\u00a0 fitnah,\u00a0 kritik\u00a0 kejam, penghinaan,\u00a0 dan\u00a0 pernyataan-pernyataan\u00a0 bernuansa\u00a0 ajakan\u00a0 seksual\u00a0 atau\u00a0 pelecehan seksual.\u00a0 Selain\u00a0 itu,\u00a0 penindasan\u00a0 verbal\u00a0 dapat\u00a0 berupa\u00a0 perampasan\u00a0 uang\u00a0 jajan\u00a0 atau barang-barang,\u00a0 telepon\u00a0 yang\u00a0 kasar,\u00a0\u00a0<em>e-mail\u00a0<\/em>\u00a0yang\u00a0 mengintimidasi,\u00a0 surat-surat\u00a0 kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>c.<em>Bullying<\/em>\u00a0Relasional<\/p>\n<p>Jenis\u00a0 ini\u00a0 paling\u00a0 sulit\u00a0 dideteksi\u00a0 dari\u00a0 luar.\u00a0 Penindasan\u00a0 relasional\u00a0 adalah pelemahan\u00a0 harga\u00a0 diri\u00a0 si\u00a0 korban\u00a0 penindasan\u00a0 secara\u00a0 sistematis\u00a0 melalui\u00a0 pengabaian, pengucilan,\u00a0 pengecualian,\u00a0 atau\u00a0 penghindaran.\u00a0 Penghindaran,\u00a0 suatu\u00a0 tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan\u00a0 relasional\u00a0 dapat\u00a0 digunakan\u00a0 untuk\u00a0 mengasingkan\u00a0 atau\u00a0 menolak seorang\u00a0 teman\u00a0 atau\u00a0 secara\u00a0 sengaja\u00a0 ditujukan\u00a0 untuk\u00a0 merusak\u00a0 persahabatan.\u00a0 Perilaku ini\u00a0 dapat\u00a0 mencakup\u00a0 sikap-sikap\u00a0 tersembunyi\u00a0 seperti\u00a0 pandangan\u00a0 yang\u00a0 agresif,\u00a0 lirikan mata,\u00a0 helaan\u00a0 napas,\u00a0 bahu\u00a0 yang\u00a0 bergidik,\u00a0 cibiran,\u00a0 tawa\u00a0 mengejek,\u00a0 dan\u00a0 bahasa\u00a0 tubuh yang kasar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>d.<em>Cyber bullying<\/em><\/p>\n<p>Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.<\/p>\n<p>Bentuknya berupa:<\/p>\n<ol>\n<li>Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar<\/li>\n<li>Meninggalkan pesan voicemail yang kejam<\/li>\n<li>Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (<em>silent calls<\/em>)<\/li>\n<li>Membuat website yang memalukan bagi si korban<\/li>\n<li>Si korban dihindarkan atau dijauhi dari\u00a0<em>chat room<\/em>\u00a0dan lainnya<\/li>\n<li>\u201cHappy slapping\u201d \u2013 yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Riauskina, dkk (2005) mengelompokkan perilaku\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0ke dalam 5 kategori :<\/p>\n<ol>\n<li>a) Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain);<\/li>\n<\/ol>\n<p>b).Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan (<em>put-down<\/em>), mengganggu, member panggilan nama (<em>name-calling<\/em>), sarkasme, mencela\/mengejek, memaki, menyebarkan gosip);<\/p>\n<p>c).Perilaku non verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal) ;<\/p>\n<p>d)Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng);<\/p>\n<ol>\n<li>e) Pelecehan seksual (kadang-kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>6.Dampak akibat bullying<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Individu<\/li>\n<\/ol>\n<p>SEJIWA\u00a0 (2006)\u00a0 menyebutkan\u00a0 penelitian\u00a0 tentang\u00a0 bullying\u00a0 telah\u00a0 dilakukan\u00a0 baik\u00a0 didalam\u00a0 maupun\u00a0 di\u00a0 luar\u00a0 negeri.\u00a0 Penelitian-penelitian\u00a0 tersebut\u00a0 mengungkapkan bahwa bullying memiliki efek-efek negatif seperti :<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Gangguan psikologis (seperti cemas dan kesepian)<\/li>\n<li>Konsep diri\u00a0 korban\u00a0 bullying\u00a0 menjadi\u00a0 lebih\u00a0 negatif\u00a0 karena\u00a0 korban\u00a0 merasa\u00a0 tidak diterima oleh teman-temannya (Djuwita dalam SEJIWA, 2006).<\/li>\n<li>Menjadi penganiaya ketika dewasa<\/li>\n<li>Agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan criminal<\/li>\n<li>Korban bullying merasakan stress, depresi, benci terhadap pelaku, dendam, ingin<\/li>\n<\/ol>\n<p>keluar\u00a0 sekolah,\u00a0 merana,\u00a0 malu,\u00a0 tertekan,\u00a0 terancam bahkan self injury.<\/p>\n<ol>\n<li>Menggunakan obat-obatan atau alkohol<\/li>\n<li>Membenci lingkungan sosialnya<\/li>\n<li>Korban akan merasa rendah diri dan tidak berharga<\/li>\n<li>Cacat fisik permanen<\/li>\n<li>Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada gangguan kepribadian<\/li>\n<li>Keinginan untuk bunuh diri<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li>Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Akademik<\/li>\n<\/ol>\n<p>Penelitian\u00a0 lain\u00a0 (Zona\u00a0 Sekolah,\u00a0 2009)\u00a0 menyebutkan bullying\u00a0 ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan\u00a0 tindakan\u00a0 bunuh\u00a0 diri.\u00a0 Bullying\u00a0 juga\u00a0 menurunkan\u00a0 skor\u00a0 tes\u00a0 kecerdasan\u00a0 dan kemampuan analisis para siswa.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>c.Dampak Perilaku Bullying Terhadap Kehidupan Sosial<\/p>\n<p>Remaja sebagai\u00a0 korban bullying sering\u00a0 mengalami ketakutan untuk sekolah dan\u00a0 menjadi\u00a0 tidak\u00a0 percaya\u00a0 diri,\u00a0 merasa\u00a0 tidak\u00a0 nyaman\u00a0 dan\u00a0 tidak\u00a0 bahagia\u00a0 (Setiawati, 2008).\u00a0 Aksi bullying menyebabkan\u00a0 seseorang\u00a0 mejadi\u00a0 terisolasi\u00a0 dari\u00a0 kelompok sebayanya karena teman sebaya korban bullying tidak mau akhirnya mereka menjadi target bullying karena mereka berteman dengan korban (Setiawati, 2008).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut\u00a0 YKAI\u00a0 (Yayasan\u00a0 Kesejahteraan\u00a0 Anak\u00a0 Indonesia)\u00a0 dalam\u00a0 Huraerah (2007:57)\u00a0 menyimpulkan\u00a0 bahwa \u00a0tindakan\u00a0 kekerasan\u00a0 berdampak\u00a0 sangat\u00a0 serius terhadap\u00a0 kehidupan\u00a0 seseorang,\u00a0 misalnya\u00a0 korban\u00a0 memiliki\u00a0 konsep\u00a0 diri\u00a0 yang\u00a0 negatif dan ketidakmampuan mempercayai dan mencintai orang lain, pasif dan menarik diri dari lingkungan, takut membina hubungan baru dengan orang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber lain menyatakan bahwa dampak bullying adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Mengalami kesulitan membina hubungan interpersonal<\/li>\n<li>Takut datang ke sekolah<\/li>\n<li>Sulit berkonsentrasi<\/li>\n<li>Ketinggalan pelajaran<\/li>\n<li>Dampak fisik:sakit kepala,flu,sakit dada<\/li>\n<li>Dampak psikologis:emosi negatif seperti marah, dendam , kesal,tertekan, takut,malu,sedih dsb.<\/li>\n<li>Dampak psikologis ekstrim:rasa cemas berlebihan, ingin bunuh diri<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Pada beberapa kasus lain misalnya bahkan seperti di Jepang, kasus bullying identik dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para korbannya karena mereka sudah tidak lagi melihat adanya jalan keluar dari bullying tersebut. SEJIWA mengungkapkan pada wawancara di media IMTV (8 Agustus 2012) menyebutkan di Indonesia tertulis sejumlah 34 kasus bunuh diri karena bullying pada tahun 2011 lalu dan jumlahnya meningkat hingga dirawat di rumah sakit jiwa pada tahun 2012 ini.<\/p>\n<p><strong>7.Kasus bullying di Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Berikut ini adalah beberapa contoh kasus bullying yang terjadi di SMA di Jakarta seperti dikutip dari laman ANTARA :<\/p>\n<ol>\n<li>Kasus Bullying di SMA 90 Jakarta<\/li>\n<\/ol>\n<p>Para junior disuruh berlari, push up dan bahkan berkelahi di lapangan Bintaro oleh para seniornya. Bila juniornya menolak, maka akan ditampar keras. Hal ini berlangsung dari pagi hingga petang. Tercatat 31 siswa yang melakukan peristiwa bullying tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Kasus Bullying SMA 82 Jakarta<\/li>\n<\/ol>\n<p>Seorang siswa kelas 1 bernama Ade hendak mengambil catatan geografinya yang tertinggal di kelas, namun ia melewati koridor khusus untuk anak kelas 3. Yang dinamakan \u201ckoridor Gaza\u201d. Selain dipukuli dan ditendangi oleh sekitar 30 siswa, ia juga terpaksa dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka cukup parah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Kasus Bullying SMA 46 Jakarta<\/li>\n<\/ol>\n<p>Seorang siswa bernama Okke sering dipinjami motor oleh seniornya yang berinisial B. Namun ia meminjamnya dengan cara kasar dan mengembalikannya juga dengan seenaknya. Karena kesal maka Okke tidak lagi menggubris B, akibatnya ia dipukuli, diludahi dan sebagainya. Kini Okke lebih memilih untuk home schooling.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Kasus Bullying SMA 70 Jakarta<\/li>\n<\/ol>\n<p>Vhia dipukuli oleh 3 orang seniornya dengan alasan karena ia tidak menggunakan kaos dalam (singlet). Peraturan tersebut dibuat oleh para seniornya dan bukan oleh sekolah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>Kasus Bullying SMA Don Bosco Pondok Indah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kasus ini menimpa junior yang dilaporkan mengalami tindak kekerasan berupa pemukulan dan sundutan rokok saat masa orientasi siswa. Saat ini kasus masih diproses dan dikabarkan polisi telah menahan 7 tersangka.<\/p>\n<p>Sejauh ini Komisi Perlindungan Anak (KPA) telah mencatat pada tahun 2011 terjadi 139 kasus bullying dan pada tahun 2012 ini telah tercatat sejumlah 36 kasus.<\/p>\n<p>Kak Seto, pakar pendidikan anak menambahkan bahwa di Indonesia mesti adanya perbaikan sistem dalam dunia pendidikan Indonesia karena kasus bullying ini terjadi baik di tingkat SMA hingga ke tingkat TK.<\/p>\n<p><strong>8.Solusi mengenai bullying<\/strong><\/p>\n<p>Mengapa bullying sulit untuk dihentikan, karena alasan sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Karena kebiasaan<\/li>\n<li>Mereka dihormati oleh anak-anak lain yang kurang berkuasa namun ingin berkuasa<\/li>\n<li>Mereka cenderung kesulitan mengarahkan rasa marah<\/li>\n<li>Mereka memang senang menyakiti orang lain dan tidak ingin berhenti<\/li>\n<li>Mereka merasa tidak melakukan kesalahan dan berhak melakukan perbuatan tersebut<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bagi korban, hal ini juga sulit untuk dihentikan karena:<\/p>\n<ol>\n<li>Mereka merasa tidak cukup kuat untuk melawan<\/li>\n<li>Mereka merasa seharusnya menghentikan para bully adalah tugas orang lain<\/li>\n<li>Mereka merasa bahwa mereka memang pantas mendapatkan perlakukan buruk tersebut<\/li>\n<\/ol>\n<p>Mereka yang dinamakan \u201c<em>onlookers<\/em>\u201d atau \u201cpenonton\u201d juga sulit untuk menghentikan kegiatan bullying tersebut karena:<\/p>\n<ol>\n<li>Mereka tidak tahu bagaimana membantu para korban tanpa membuat masalah baru<\/li>\n<li>Mereka juga cemas akan keamanan mereka sendiri<\/li>\n<li>Mereka mungkin merasa ketakutan, marah atau merasa bersalah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Lalu penyebab mengapa sekolah atau lembaga pendidikan seolah tidak berdaya menghadapi bullying adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Karena terbiasa, misalnya saat masa orientasi siswa<\/li>\n<li>Kultur dari lembaga pendidikan tersebut yang berjalan turun temurun tanpa ada perubahan<\/li>\n<li>Karena kurangnya pendidikan dan keakraban di dalam keluarga<\/li>\n<li>Karena kurangnya pendidikan agama dan pelatihan moral<\/li>\n<li>Ketidakpedulian guru dan pihak lain di sekolah<\/li>\n<li>Paradigma atau pandangan bahwa itu hanya guyonan semata<\/li>\n<li>Kurangnya melatih moral, motivasi dan empati para peserta didik<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Maka solusi yang bisa dilakukan antara lain adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Meningkatkan pendidikan agama di sekolah<\/li>\n<li>Meningkatkan pendidikan karakter dan memberikan pemahaman mengenai bullying<\/li>\n<li>Meningkatkan hukuman yang ditegakkan di sekolah<\/li>\n<li>Membuat kultur sekolah yang lebih baik serta positif dan pelatihan bersosialisasi<\/li>\n<li>Adanya pelatihan dan semacam bimbingan baik bagi para guru, siswa dan seluruh warga sekolah mengenai bullying<\/li>\n<li>Mengadakan program sekolah misalnya \u201c<em>tolerance day<\/em>\u201d untuk menjaga kultur sekolah yang baik<\/li>\n<li>Pemerintah juga bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya bullying ini dengan mengadakan \u201c<em>bullying awareness week<\/em>\u201d misalnya.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>C.PENUTUP<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0di sekolah merupakan satu masalah besar yang harus diatasi karena seharusnya sekolah melindungi siswanya dari tindakan kekerasan dalam bentuk apapun,\u00a0 dan menjadi wadah untuk pembentukan akal, moral dan karakter yang diperlukan untuk membangun masyarakat Indonesia yang sehat, berbudaya dan berteknologi tinggi. Masalah\u00a0<em>bullying<\/em>\u00a0di sekolah adalah tanggung jawab semua pihak yang ada di sekolah dan orang tua siswa.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Bullying ini bisa dicegah selama semua yang terkait dalam institusi tersebut memiliki andil dan kepedulian untuk mengubah dan mencegah persoalan tersebut.<\/p>\n<p>Seperti yang telah diungkapkan oleh Hellen Keller sebagai berikut,\u201d<em>Science may have found a cure for most evils but it has found no remedy for the worst of them all \u2013 the human apathy<\/em>\u201d [ Sains mungkin telah menemukan penyembuh bagi kebanyakan setan namun belum menemukan penyembuh bagi yang terburuk \u2013 yaitu ketidakpedulian manusia].<\/p>\n<p>Sesungguhnya bullying ini bisa dicegah baik bagi pelaku maupun korban, yaitu dengan meningkatkan setidaknya perasaan empati dan kepedulian antar sesama. Agar tidak ada lagi kekerasan yang berlanjut baik di rumah, institusi pendidikan, pekerjaan dan tempat lainnya.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>D.REFERENSI<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>_____.(2005).\u201dPsikologi bullying dan konsep diri\u201d.Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia<\/p>\n<p>Antara.(2012).\u201dPresiden menilai bullying\u201d.[online] Tersedia di :\u00a0<a href=\"http:\/\/www.antaranews.com\/\">www.antaranews.com<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Boombox.(2011).\u201d<em>Why bullying happens?<\/em>\u201d.[online]. Available at :\u00a0<a href=\"http:\/\/www.oxfordshire.gov.uk\/cms\/content\/anti-bullying\">http:\/\/www.oxfordshire.gov.uk\/cms\/content\/anti-bullying<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Detik.(2012).\u201d5 kasus bullying SMA di Jakarta\u201d.[online].Tersedia di :\u00a0<a href=\"http:\/\/news.detik.com\/read\/2012\/07\/31\/105747\/1979089\/10\/?992204topnews\">http:\/\/news.detik.com\/read\/2012\/07\/31\/105747\/1979089\/10\/?992204topnews<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Field,Evelyn.(2009<em>).\u201dWhy does bullying happens?\u201d.[<\/em>online].Availabe at :\u00a0<a href=\"http:\/\/www.bullying.com.au\/\">www.bullying.com.au<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kurniawan,Bahri.(20120).\u201dKak Seto:Dunia Pendidikan harus dikoreksi\u201d.[online]. Tersedia di :\u00a0<a href=\"http:\/\/www.tribunnews.com\/\">www.tribunnews.com<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Miskyah,Ehan.(2009).\u201dBullying dalam pendidikan\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mudjiyanti,Fransisca.(2011).\u201dSchool bullying dan peran guru dalam mengatasinya\u201d.Krida Rakyat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Thornberg R, Knutsen MA.\u00a0<em>Child &amp; Youth Care Forum<\/em>\u00a0doi: 10.1007\/s10566-010-9129-z<\/p>\n<p>Wang J et al.\u00a0<em>Journal of Adolescent Health\u00a0<\/em>2009 Oct; 45(4): 368-75<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>VivaNews.(2012).\u201dBullying hantui Jepang\u201d.[online].Tersedia di:\u00a0<a href=\"http:\/\/dunia.news.viva.co.id\/news\/read\/339918-bunuh-diri-karena-bullying%E2%80%93hantui%E2%80%93jepang\">http:\/\/dunia.news.viva.co.id\/news\/read\/339918-bunuh-diri-karena-bullying\u2013hantui\u2013jepang<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BULLYING DALAM DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Cynantia Rachmijati Program Studi Bahasa Inggris \u2013 Dosen Bahasa Inggris \u2013 IKIP\u00a0 SILIWANGI- Cimahi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-7515","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>&quot;Bullying dalam dunia pendidikan&quot; - Web Dosen<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_GB\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"&quot;Bullying dalam dunia pendidikan&quot; - Web Dosen\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"BULLYING DALAM DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Cynantia Rachmijati Program Studi Bahasa Inggris \u2013 Dosen Bahasa Inggris \u2013 IKIP\u00a0 SILIWANGI- Cimahi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Web Dosen\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-03-05T16:27:38+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"cynantia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"cynantia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimated reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"cynantia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/6486bc3e38b9c0f0019b94f454f071d1\"},\"headline\":\"&#8220;Bullying dalam dunia pendidikan&#8221;\",\"datePublished\":\"2018-03-05T16:27:38+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/\"},\"wordCount\":3484,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Umum\"],\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/\",\"name\":\"\\\"Bullying dalam dunia pendidikan\\\" - Web Dosen\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2018-03-05T16:27:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-GB\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/cynantia-rachmijati\\\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"&#8220;Bullying dalam dunia pendidikan&#8221;\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/\",\"name\":\"Web Dosen\",\"description\":\"Portal Informasi Dosen IKIP Siliwangi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-GB\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#organization\",\"name\":\"Web Dosen\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/6\\\/2024\\\/11\\\/cropped-100x100-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/sites\\\/6\\\/2024\\\/11\\\/cropped-100x100-1.png\",\"width\":100,\"height\":100,\"caption\":\"Web Dosen\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/6486bc3e38b9c0f0019b94f454f071d1\",\"name\":\"cynantia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-GB\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"cynantia\"},\"description\":\"Dosen Prodi Bahasa Inggris yang tertarik dengan bidang tulis menulis, film serta budaya populer lainnya. Pengagum seni, penikmat musik dan pembaca novel.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\\\/en\\\/author\\\/cynantia-rachmijati\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\"Bullying dalam dunia pendidikan\" - Web Dosen","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/","og_locale":"en_GB","og_type":"article","og_title":"\"Bullying dalam dunia pendidikan\" - Web Dosen","og_description":"BULLYING DALAM DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Cynantia Rachmijati Program Studi Bahasa Inggris \u2013 Dosen Bahasa Inggris \u2013 IKIP\u00a0 SILIWANGI- Cimahi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/","og_site_name":"Web Dosen","article_published_time":"2018-03-05T16:27:38+00:00","author":"cynantia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"cynantia","Estimated reading time":"17 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/"},"author":{"name":"cynantia","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#\/schema\/person\/6486bc3e38b9c0f0019b94f454f071d1"},"headline":"&#8220;Bullying dalam dunia pendidikan&#8221;","datePublished":"2018-03-05T16:27:38+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/"},"wordCount":3484,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#organization"},"articleSection":["Umum"],"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/","url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/","name":"\"Bullying dalam dunia pendidikan\" - Web Dosen","isPartOf":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#website"},"datePublished":"2018-03-05T16:27:38+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-GB","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/cynantia-rachmijati\/bullying-dalam-dunia-pendidikan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"&#8220;Bullying dalam dunia pendidikan&#8221;"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#website","url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/","name":"Web Dosen","description":"Portal Informasi Dosen IKIP Siliwangi","publisher":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-GB"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#organization","name":"Web Dosen","url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2024\/11\/cropped-100x100-1.png","contentUrl":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2024\/11\/cropped-100x100-1.png","width":100,"height":100,"caption":"Web Dosen"},"image":{"@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/#\/schema\/person\/6486bc3e38b9c0f0019b94f454f071d1","name":"cynantia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-GB","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9b1fbb167b3d4c4748a6f674a8850ce04300e54c9a11a1cd73e170b931e2864a?s=96&d=mm&r=g","caption":"cynantia"},"description":"Dosen Prodi Bahasa Inggris yang tertarik dengan bidang tulis menulis, film serta budaya populer lainnya. Pengagum seni, penikmat musik dan pembaca novel.","url":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/author\/cynantia-rachmijati\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7515","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7515"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7515\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.ikipsiliwangi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}