Artikel Umum

PENTINGNYA INOVASI PEMBELAJARAN DI ERA PANDEMI

Dipublikasikan pada : 7 Februari 2021.

PENTINGNYA INOVASI PEMBELAJARAN DI ERA PANDEMI

Sary Sukawati

IKIP Siliwangi

[email protected]

 

Pertanyaan retorik yang muncul di benak saat ini, “Perlukah sebuah inovasi pembelajaran di era Pandemi ini?” tentu saja. Kita mengetahui bahwa era pandemi memaksa setiap orang untuk tetap di rumah.  Beberapa istilah pembatasan interaksi sosial seperti  PSBB (pembatasan sosial berskala besar), social distancing (pembatasan sosial), physical distancing (pembatasan fisik) muncul secara bersamaan seolah memaksa kita menjaga jarak dengan setiap orang. Dengan kata lain, satu-satunya yang sangat disarankan adalah “stay at home  atau tetap di rumah saja”  agar terhindar dari paparan virus covid 19. Istilah WFH (work from home) dan SFH (study From home) pun sekarang sudah terbiasa terdengar di telinga.

Bagi dunia pendidikan sebetulnya bukan hal yang baru jika pembelajaran dilakukan di rumah. Sejak dulu kita sudah mengenal istilah home schooling atau sekolah di rumah. Wenger dalam Huda (2015) menyampaikan “Pembelajaran bisa di mana saja dan pada level yang bebeda-beda, secara individual, kolektif, ataupun sosial”. Tetapi secara jelas kita pun mengetahui bahwa home schooling dan E-learning di Indonesia hanya untuk sebagian kalangan.  Berbeda kasus dengan saat ini, semua sekolah se-Indonesia serentak harus pembelajaran daring atas instruksi menteri Pendidikan, Nadiem Makarim sebagai salah upaya pencegahan virus covid 19 terhadap anak-anak kita.

Sekolah pun berubah wajah, pembelajaran daring menjadi wajah normal baru di era pandemi. Nugroho (2020) menyampaikan bahwa “Di era revolusi industri 4.0, dunia pendidikan tinggi menghadapi tantangan dengan berbagai perubahan yang ada. Ditambah adanya pandemi Covid-19 menuntut pendidikan tinggi untuk bisa melakukan penyesuaian dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satunya mengubah metode pembelajaran tatap muka (luring) menjadi daring saat pandemi”.

Bagi sebagian guru mungkin sudah terbiasa dengan pembelajaran E-learning. Tapi lagi-lagi masalah muncul karena tidak semua guru siap menghadapi pembelajaran daring. Perlu perangkat pembelajaran yang mumpuni saat pelaksanaan pembelajaran secara daring. Selain RPP, bahan ajar, model, pendekatan, metode, dan media yang harus dipersiapkan lainnya adalah kuota, perlengkapan IT, dan kecakapan mengoperasikan semua aplikasi pembelajaran. Akibatnya muncul pertanyaan baru “Apakah pembelajaran daring dapat mencapai indikator pembelajaran secara tepat dan menyeluruh?” “Mampukah pembelajaran daring menciptakan kualitas pembelajaran yang sama baiknya atau bahkan lebih baik daripada pembelajaran luring (luar jaringan)?”

Saat ini pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru masih banyak yang berfokus pada pemberian tugas. Banyak guru yang membuka pembelajaran melalui whatsapp group dengan kalimat pembuka berisi informasi materi atau intruksional hal-hal yang harus dikerjakan dan diakhiri dengan pemberian tugas tanpa menjelaskan isi materi yang akan dipelajari. Hal ini dilakukan secara rutin atau setiap hari sesuai jadwal pelajaran. Akibatnya yang dihadapi oleh siswa pada umumnya bukanlah pembelajaran melainkan penugasan. Mungkin masih ada guru yang merasa setelah membuka kelas kemudian memberi tugas dianggap sudah melaksanakan pembelajaran daring. Itu keliru dan harus diubah.

Tanpa disadari pola pembelajaran seperti itu akan membuat siswa menjadi mudah stres. Sementara di sisi lain untuk menghadapi serangan virus justru imunitas tubuh harus kuat. Penugasan setiap hari akan menjadi beban tidak hanya bagi siswa tapi juga sebagian orang tua. Bagi siswa SD yang didampingi orang tua mungkin termasuk yang beruntung. Meskipun harus diakui bahwa tidak semua orang tua dapat menjadi pengganti guru yang baik saat menjelaskan materi sekaligus andal mengoperasikan gadget/aplikasi pembelajaran. Nasib siswa lain yang orang tuanya harus tetap bekerja dan tidak bisa mendampingi anak belajar sudah bisa dibayangkan. Fenomena baru  terkait pembelajaran daring di era pandemi ini telah membuat semua pihak (guru, siswa, orang tua, dan sekolah) merasa dilema.

Sebagai pendidik sudah menjadi kewajiban guru untuk mengubah wajah pendidikan yang penuh dilema menjadi pembelajaran yang solutif, menyenangkan, sekaligus memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Bukan yang melelahkan dan justru membuat stres. Di sinilah pada akhirnya pendidik perlu melakukan inovasi pembelajaran agar pembelajaran tidak monoton, satu arah, dan melelahkan. Inovasi pembelajaran dimaksudkan sebagai sebuah cara baru yang dapat diterapkan oleh seorang pendidik dalam pembelajaran melalui sebuah pendekatan multi ke arah yang lebih baik, lebih kreatif dan dinamis. Seperti yang dikemukakan oleh Hamid (2014) Dunia pendidikan memerlukan berbagai inovasi untuk kemajuan kualitas pendidikan yang tidak menekankan pada teori, tetapi juga harus bisa diarahkan pada hal yang yang bersifat praktis. Lebih lanjut disebutkan inovasi pembelajaran dibutuhkan agar para siswa mejadi lebih bersemangat, mempunyai motivasi untuk belajar, dan antuasias menyambut pelajaran dari pendidik.

Inovasi dalam KBBI (2020) bermakna: 1) pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; pembaruan; 2)penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat); 3)unsur yang mengalami pembaruan dalam bahasa modern. Dalam hal ini maka bentuk penerapan inovasi pembelajaran menyangkut model, pendekatan, metode, dan media pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dirancang harus dapat memenuhi indikator dan kebutuhan peserta didik saat mengikuti pembelajaran luring. Joyce dalam Huda (2015) menyebut model pengajaran atau model pembelajaran dirancang untuk tujuan-tujuan tertentu dengan meminta siswa terlibat aktif dalam tugas-tugas kognitif dan sosial tertentu. Sebagian model berpusat pada penyampaian guru, sementara sebagian yang lain berusaha fokus pada respons siswa dalam mengerjakan tugas dan posisi siswa sebagai partner dalam proses pembelajaran.

Secara jelas Joyce, Weil, & Calhoun (2009) telah mengelompokkan model-model pengajaran ke dalam empat kelompok yaitu:

1) Kelompok Model Pengajaran Memproses, di antaranya: model berpikir induktif, pencapaian konsep, induktif bergambar, penelitian ilmiah, latihan penelitian, menghapal, sinektik, dan advance oganizer.

2) Kelompok Model Pengajaran sosial, di antaranya: model kooperatif, bermain peran, dan penelitian yuridis.

3) Kelompok Model Pengajaran Personal, di antaranya: model pengajaran tak terarah dan classroom meeting.

4) Kelompok Model Pengaaran Sistem Perilaku, di antaranya adalah model instruksi langsung dan simulasi.

Selain kelompok model di atas masih banyak model pembelajaran lain yang berkembang untuk membantu siswa berpikir kreatif dan produktif  baik secara luring maupun daring. Inovasi pembelajaran yang dapat kita terapkan berkaitan dengan model pembelajaran dapat kita tambahkan berbasis, berbantuan, berorientasi, dll. Contohnya: penerapan model berpikir induktif berbasis kecerdasan interpersonal dalam pembelajaran materi teks eksposisi. Variabel kecerdasan interpersonal dapat kita ganti dengan variabel yang sesuai dengan kebutuhan indikator pembelajaran.

Kita juga dapat menerapkan berbagai pedekatan terhadap model yang sudah kita tetapkan. Pendekatan dapat kita terapkan seperti pendekatan saintifik, contextual teaching learning (CTL), organisasional, kolaboratif, komunikatif, informatif, reflektif, berpikir dan berbasis masalah, dll. Sanjaya (2012) mengemukakan bahwa untuk menimbulkan proses komunikasi pembelajaran yang efektif, salah satu pendekatan yang dapat kita gunakan adalah pendekatan sistem. Melalui sistem perancanaan yang matang dan sistematis 1)hasil yang dicapai bisa optimal, 2)segala potensi yang postitif dapat dimanfaatkan, 3)hambatan yang diprediksi dapat dihadapi, dan 4) berbagai sumber dan fasilitas dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam pembelajaran daring pendekatan sistem menjadi penting untuk dilakukan untuk menghindari kasus yang sering terjadi saat ini. Guru menyiapkan pembelajaran secara mendadak maka hasilnya setengah jam alokasi pembelajaran (bahkan bisa lebih) hanya berkutat pada pengondisian kelas daring. Guru dan siswa disibukkan dengan kegiatan mencari tahu cara menggunakan sistem aplikasi pembelajaran alih-alih memahami materi pembelajaran. Sebaiknya sampaikan terlebih dahulu jenis platform yang akan digunakan sebelum jam pembelajaran dimulai. Jika harus menggunakan aplikasi baru, maka berikan arahan atau petunjuk secara sederhana yang dapat diikuti oleh siswa atau orang tua di rumah. Sangat jelas bahwa pendidiklah yang harus paham terlebih dahulu berkaitan dengan pemanfaatan aplikasi ini. Dengan kata lain diperlukan kecakapan guru dalam memahami teknologi dan media pembelajaran yang akan dgunakan dalam pembelajaran.

Sekait dengan hal di atas, harus dipahami bahwa teknologi dan media pembelajaran saat ini bukan hanya perangkat keras seperti TV, buku cetak, video tape, papan buletin, slide, foto, poster, CD Room, laptop, LCD dan infokus. Kita juga harus mengenal lebih jauh perangkat lunak yang bisa digunakan melalui internet/jaringan seperti email dan youtube, serta aplikasi-aplikasi pembelajaran google classroom, google meet, zoom clouds meeting, quizziz, kahoot, LMS, microsoft team, dll.  Pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran tersebut harus dilakukan secara maksimal sebagai bentuk wujud inovasi kita dalam pembelajaran. Misalnya pendekatan organisasionl dapat kita terapkan dengan bantuan aplikasi google classroom.  Seperti yang dikemukakan oleh Viaseno (2018) dalam Rosdiana et al. (2020) mengemukakan bahwa adanya Google Classroom sebagai aplikasi Android khusus untuk dunia pendidikan sangat mendukung terhadap kegiatan belajar dan mengajar agar lebih praktis, hemat waktu, dan membantu para guru menciptakan dan mengumpulkan tugas dari siswa. Aplikasi Google Classrom ini juga menciptakan folder drive untuk setiap tugas siswa yang dapat membantu dan menjaga semua dokumen secara terorganisir.

Namun, untuk memenuhi pendekatan komunikatif kita bisa menambahkan aplikasi lain seperti google meet atau zoom meeting agar komunikasi dua arah atau tatap muka daring bisa terpenuhi. Nuryana (2020) menyebutkan zoom adalah aplikasi free yang mampu menghadirkan pembelajaran seperti di kelas, akan tetapi melalui daring. Kelebihan zoom adalah fasilitas gratis sampai 100 user, dapat menggunakan tatap user, chating, dan record. Penggunaan aplikasi yang mudah, membuat zoom layak untuk di jadikan alternatif pembelajaran online.

Pada akhirnya pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran harus menjadi inovasi pembelajaran yang memudahkan siswa memahami isi materi pembelajaran bukan justru mempersulit. Inovasi yang diterapkan harus mampu melatih siswa untuk berpikir dan bertindak kreatif, percaya diri mampu mendesain suatu penemuan, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis. Sani (2013) menyebutkan “Pembelajaran yang bermutu dan menghasilkan peserta didik yang kreatif akan membantu membangun generasi yang mampu menghadapi kehidupan pada masa mendatang dalam era persaingan bebas”. Oleh karena itu, setiap guru dituntut untuk kreatif dan inovatif  untuk menjadikan wajah pendidikan ini lebih baik. Pendidikan harus mampu menciptakan generasi  yang siap menghadapi masa depan secara bermartabat sesuai dengan akal dan budi.

 

Referensi

Huda, M. (2015). Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2009). Models of teaching model-model pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nuryana, Z. (2020). Panduan penggunaan ZOOM. US untuk pembelajaran online.

Rosdiana, L. A., Sukawati, S., & Firmansyah, D. (2020). Meningkatkan kedisiplinan melalui google clasroom dalam mata kuliah bahasa Indonesia. Semantik, 9(1), 35–40.

Sani, R. A. (2013). Inovasi pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

 

id_IDIndonesian