Artikel Umum

Mempercayai Anak

Dipublikasikan pada : 6 Februari 2020.

(SumberĀ  : https://esapuspita.com/mempercayai-anak/)

 

Semester genap telah berjalan beberapa minggu. Siswa-siswi kita telah menjalani hampir separuh dari waktu semester. Tak lama kemudian bagi para siswa kelas akhir akan menjalani ujian akhir nasional. Suka atau tidak, UAN harus tetap dijalani. Ini adalah salah satu momentum yang paling menentukan baik bagi siswa maupun bagi orang tua. Kelulusan dalam UN sepertinya menjadi kunci bagi masa depan seluruh siswa. Sekolah akan menanggung malu bila banyak siswanya yang tak mampu melewati ujian tersebut, sebaliknya siswa pun akan merasakan hal yang lebih parah, merasa bahwa hidup bisa berakhir karena tak sanggup melewati ujian nasional.

 

Berkaca dari kasus-kasus yang terjadi beberapa waktu lalu, tak sedikit siswa yang nekat menggantung diri gara-gara tak lulus UN. Terlepas dari berbagai kontroversi mengenai UN dan sikap sosial masyarakat kita, ada hal yang seharusnya lebih kita perhatikan daripada melulu membiacarakan kontroversi UN, dan menyalahkan pemerintah.

 

Siswa mengalami sebuah lag (kesenjangan) akibat dari adanya perasaan tidak siap untuk menghadapi UN, dan mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. Terutama bila orang tua dan guru terus menerus menekan siswa untuk lulus, lulus dan lulus. Masalah akan bertambah berat bila siswa disertakan dalam program bimbingan yang tidak memberikan solusi, justru memperkeruh masalah dengan memperberat tingkat permasalahan, bahkan soal-soal sederhana di dramatisasi untuk menjadi soal yang begitu berat dan hebat, hingga terkesan bila anak tak mampu mengerjakan soal dengan tepat dan benar, hal tersebut akan berujung berdampak pada hidup dan matinya siswa.

 

Tak jarang anak mengalami perubahan sikap ketika hendak menghadapi ujian nasional. Orang tua terus memaksakan anak untuk belajar, dan guru bingung menghadapi perilaku anak yang tidak biasanya. Bila guru kurang sigap menghadapi perubahan tersebut, maka bukan mustahil anak mengalami depresi yang bahkan memperburuk hasil belajarnya, terutama hasil UN-nya.

 

Guru dan orang tua dapat membantu anak dalam hal yang lain. Pertama, tak perlu kita terus menerus mempermasalahkan UN dan menekankan anak mengenai pentingnya UN dalam satu episode kehidupannya. Kita hanya perlu untuk mempercayai anak, dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Biarkan anak melakukan hal-hal lain diluar keharusannya untuk terus belajar dan berlatih menghadapi soal-soal UN, selama hal itu dapat dikondisikan dengan situasi dan waktu yang ada. Kedua, kita perlu membantu anak untuk menemukan dirinya, menemukan arti dirinya dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Bila anak merasa dirinya penting bagi orang-orang di sekelilingnya, ia akan menemukan cara untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya dengan alternatif yang solutif, bukan perilaku reaktif yang membuatnya depresi. Kepercayaan diri adalah bagian penting dalam membantu anak menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupannya.

Penulis adalah Dosen program studi pendidikan masyarakatĀ 

Fakultas Ilmu PendidikanĀ 

IKIP Siliwangi